13/15 SIRI RAMADAN : BILA JIWA MULA LETIH


PEMBUKA KATA : KITA HANYA MANUSIA

Sebagai manusia, ada masa kita merasa kuat.

Lumrahnya, ada ketika kita hilang dimana sumber kecekalan untuk meneruskan kehidupan.

Mengapa? Kerana kita hanya manusia.

Walaupun kita dikatakan sebagai sebaik-baik ciptaan, tetaplah kita ini hanyalah sebuah 'ciptaan', yang serba serbi lemah jika hendak dibandingkan dengan Allah SWT yang Maha Menciptakan.

Pada akhirnya, kita perlu akur, sejauh mana pun kita berjaya, sedalam mana pun kita terjerumus jatuh, kita hanya seorang manusia, yang memerlukan Dia, yakni Allah SWT, Tuhan penguasa sekalian alam.


BILA KITA MULA MERASA LETIH : KEMBALILAH

Firman Allah:

“Ketahuilah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang.”
(Surah Ar-Ra’d: 28)

Disaat tiada manusia yang sudi mendengar kita, ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, hatta seinci sekalipun.

Dia, yakni Allah SWT, yang lebih tahu, lebih faham, lebih mengerti apa yang kita rasai di saat itu. Justeru, kembalilah kepada-Nya.

Bagaimana?

Mendirikan solat, bersujud dan memperhambakan diri kepada-Nya. Menyatakan kelemahan yang semestinya menjadi ciri kepada kita semua. Allah SWT sayang pada hamba-Nya yang menyerahkan diri, mengakui kesilapan dan kelemahan.

Dunia kadangkala akan membuatkan kita letih bukan? Letih untuk memenuhi jangkaan manusia, penat untuk memenuhi tuntutan manusia, melayani kerenah manusia.

Sehinggalah kadangkala, kesilapan kita nan satu akan memadamkan 1001 kebaikan yang telah kita usahakan. 

Tetapi Allah SWT? Di saat kita tersadung melakukan kesilapan dan kita kembali untuk memohon maaf pada-Nya, Dia tidak minta pun untuk kita ceritakan apa yang telah kita lakukan. Cukup sekadar kita mahu kembali kepada-Nya, Dia sudah mengampuni dan memaafkan kita. Maha Baiknya Tuhan kita.


RAMADAN : PULIHKAN KEMBALI JIWA YANG KEPENATAN

Ramadan ini membuka ruang untuk kita memperlahankan langkahan.

Melihat dan merasai semula ketenangan apabila bertemu dengan Tuhan, dalam pelbagai bentuk amal kebaikan.

Disitulah satu persatu, rasa penat terhadap dunia, ujiannya, cabarannya akan terasa lebih ringan dan kita akan dapat berhadapan dengan lebih tenang.

Disinilah ruang kita lebih dekat dengan Al-Quran.

Dibulan inilah, ada malam dan siang kita penuhi dengan sujud yang lebih lama dan jujur kepada Tuhan.

Sebelas bulan yang lalu mungkin melelahkan, tetapi ramadan inilah ruang rehat untuk kita kembali kepada fitrah sebenar untuk merasai ketenangan.

Masih berbaki beberapa hari, pulihkanlah jiwa itu tatkala bulan mulia ini masih tersisa.


PENUTUP : BERHENTILAH SEKEJAP

Berhentilah seketika, dan kembalilah kepada Tuhan.

Jika hari ini hidup terasa sempit,

Jika saat ini kita merasakan berada di puncak kesenangan,

Jika detik ini, tiada siapa yang dapat untuk kita berpaut,

Berhenti seketika, lihatlah siapa yang mengatur kehidupan kalian.

Bukankah Dia, tidak pernah walau sesaat meninggalkan kita?

“Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam kalangan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” 
(Surah Al-Fajr: 27–30)

Apabila sujud menjadi pilihan, seluruh warga langit akan mendoakan.

Apabila tangan menadah penuh harapan, Tuhan akan memeluk dan memujuk dengan cara-Nya yang tidak pernah kita bayangkan.